Selasa, 10 Agustus 2010

Janji Rp 30 Juta Itu Masih Dinantikan

Bencana bukan hadir tanpa pesan. Sepedih apa pun, ada hikmah yang harus disyukuri. Setidaknya, prinsip itu yang masih dipegang Fathullah, warga di kawasan Situ Gintung, Ciputat, Tangerang Selatan. Ia menjadi korban jebolnya tanggul pada 27 Maret 2009.

Saat peristiwa terjadi, Fathullah, pria berusia 60-an, turut terseret air bah hingga ratusan meter. "Saya tersangkut di genteng toko material," kisahnya mengenai kejadian yang masih menyisakan trauma itu, Selasa (10/8/2010).

Tak hanya Fathullah. Istri, anak, dan dua cucunya yang saat itu berusia 4 tahun dan 1 bulan turut tersapu air. "Alhamdullilah, berkat perlindungan Allah, semuanya selamat," ujar dia.

Hanya, rumahnya tak bersisa. Bahkan, puing pun tak ada. Dengan bantuan sebesar Rp 10 juta dan Rp 17 juta dari sebuah LSM, Fathullah mencoba membangun rumah seadanya. Harga bahan bangunan yang melambung membuatnya menghentikan proses pembangunan.

"Cuma bisa pasang batako sama atap. Kata Pak Presiden, ada juga dari pemerintah pusat, janjinya mau kasih Rp 30 juta untuk rumah yang rusak berat. Tapi sampai sekarang sepeser pun kagak ada. Saya masih berharap juga," kata bapak empat anak ini.

Kini, Fathullah tinggal di sebuah rumah kontrakan yang tarifnya Rp 450.000 per bulan. Setahun pertama, uang kontrakan ditanggung oleh pemerintah daerah. "Sekarang udah enggak lagi. Tapi alhamdulillah, rezeki ada aja. Anak saya yang masih kuliah juga akhirnya kerja sambil kuliah. Disyukuri saja," ujar Fathullah yang sebelumnya membuka usaha bengkel las ini.

"Ya, saya berharap, pemerintah pusat memenuhi janjinya-lah. Walaupun udah lewat setahun, kayanya enggak mungkin. Kan lumayan buat modal bikin pintu, jendela, biar bisa balik ke rumah lagi," lanjutnya.

Dalam proses pembagian bantuan dan ganti rugi, Fathullah juga mengharapkan adanya transparansi. Dari pengalamannya, tak ada kriteria yang jelas mengenai besarnya bantuan. "Yang deket dengan Pemda ya dapet lebih besar. Saya rusak berat Rp 10 juta. Tetapi ada yang hanya rusak ringan dapatnya Rp 20 juta sampai Rp 30 juta. Tapi ya sudahlah," kata warga RT 04 ini pasrah.

Tuntas

"Curhatan" yang sama juga disampaikan warga lain di RT 04, wilayah yang memang paling parah diempas air bah. Salah satunya seorang Wanita yang kehilangan lima anggota keluarganya akibat jebolanya tanggul itu. Ia meminta namanya dirahasiakan. "Saya enggak mau jadi masalah dan akhirnya urusan saya dipersulit," ungkapnya.

Ia berharap, dalam setiap bencana, apa pun itu, pemerintah melakukan penanganan secara tuntas. Derita warga korban bencana hendaknya tak ditambah dengan beban lainnya. "Bukan hanya korban Situ Gintung. Korban bencana lainnya juga pasti merasakan hal yang sama. Hanya dijanjikan akan diberikan bantuan, ganti rugi. Tapi kenyataannya tidak sesuai yang dijanjikan. Pemerintah tuntaskanlah semuanya, lihat di lapangan apakah sudah dapat yang sesuai. Kalau saya, tidak mau berharap lagi. Tuhan masih memberikan rezeki. Istilahnya, bagaimana kalau Anda yang mendapatkan (bencana) itu?" ujarnya retoris.

Ia mengkritik pendistribusian bantuan dan ganti rugi yang tak diberikan kepada mereka yang benar-benar berhak mendapatkannya.

Rupiah Menguat, Pengusaha Mebel Menjerit

Penguatan nilai tukar rupiah belakangan ini membuat para pengusaha mebel dan kerajinan menjerit. Pasalnya, penguatan nilai tukar rupiah yang terus menguat mengancam eksistensi proyek-proyek dalam hitungan US$.

Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono mengatakan bulan ini saja secara akumulatif proyek-proyek senilai 100 juta USD deadlock.

"Rupiah menguat sampai dengan masuk ke ambang UGD, tapi sampai sekarang tidak ada upaya pemerintah untuk mendongkrak nilai rupiah," tuturnya di Kantor Asmindo, Selasa (10/8/2010).

Ambar menambahkan sebenarnya ekspor mebel dan kerajinan dalam beberapa bulan belakangan menunjukkan kecerahan. Pada Juni 2010, angka ekspor di industri ini tercatat 632.160.246 USD, meningkat sekitar 45,5 persen dari angka ekspor sebelumnya di Juni 2009.

Namun, jika penguatan rupiah dibiarkan terus menerus, lanjut Ambar, tentu saja akan banyak perusahaan mebel dan kerajinan yang gulung tikar. Apalagi, banyak pula pengusaha yang menyimpan modal dalam bentuk US$, tentu nilainya akan terus melorot.

Menurutnya, penguatan ini memperparah kondisi sebelumnya dimana jatuhnya pasar Eropa yang juga memukul industri mebel dan kerajinan dalam negeri. Asmindo mencatat sekitar 23 persen pasar ekspor mebel dan kerajinan Indonesia ada di Eropa.

Oleh karena itu, Asmindo meminta pemerintah mengintervensi nilai tukar agar tidak terus menguat. Para pengusaha mengharapkan nilai tukar aman di angka Rp 9.500.

"Kalau tak ditangani tentu mereka (para pengusaha) tak akan profit dan akan sakit terus menerus.Pemerintah harus turun tangan, intervensi, entah bagaimana caranya," tandasnya.

Senin, 02 Agustus 2010

Redenominasi Rupiah Nilai Pecahan Rupiah Bakal Dipangkas?

Isu pemotongan nilai pecahan rupiah sebenarnya sudah banyak beredar, terutama sejak nilai tukar rupiah melorot 4-5 kali lipat terhadap dollar Amerika Serikat. Beberapa kali juga pemerintah membantah isu pemotongan rupiah yang sempat membuat trauma banyak orang Indonesia pada tahun 1950 dengan menggunting uang menjadi setengahnya.

Tapi kini Bank Indonesia benar-benar sudah berancang akan melakukan pemotongan atau istilah kerennya redenominasi rupiah. Tapi dalam redenominasi nilai tukar yang terjadi hanya pemotongan nilai pecahan mata uang untuk menjadi lebih kecil tanpa mengubah nilai tukarnya.

Gubernur BI terpilih Darmin Nasution mengatakan, saat ini BI tengah menggodok wacana mengenai redenominasi nilai tukar rupiah. "BI sedang menyiapkan sejumlah hal agar nilai Rp 1 itu lebih berarti," ujar Darmin, Sabtu (31/7/2010).

Ia menambahkan, rencana redenominasi nilai tukar ini nantinya akan dibahas terlebih dahulu dengan pemerintah dan DPR. "Harus melalui Dewan Perwakilan Rakyat baru nanti kita sosialisasikan," jelasnya.

Dalam redenominasi, akan ada pemotongan angka nol pada nilai mata uang. Pemotongan nol biasanya tiga buah di belakang. Misalnya pecahan Rp 100.000 dipangkas 3 angka nolnya akan menjadi Rp 100.
BI sedang menyiapkan sejumlah hal agar nilai Rp 1 itu lebih berarti

Tapi Darmin mengatakan belum bisa memutuskan berapa jumlah angka nol yang akan dipotong. "Belum bisa diputuskan sekarang berapa angka nol yang akan dikurangi, apakah tiga atau empat. Namun, hasil pembahasan akan diusahakan disampaikan ke pemerintah tahun ini," janji mantan Dirjen pajak ini.

Sebenarnya, proses untuk melakukan redenominasi nilai tukar membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima tahun.

Menurut Deputi Gubernur BI Budi Rochadi, setidaknya ada tiga persyaratan yang harus dipenuhi jika ingin melakukan penyederhanaan satuan nilai tukar.Tiga persyaratan itu adalah kondisi ekonomi yang stabil, inflasi yang terjaga rendah, dan adanya jaminan stabilitas harga.

Selain itu, untuk melakukan redenominasi nilai tukar juga dibutuhkan penarikan uang yang beredar di masyarakat secara bertahap. "Hal yang paling sulit dilakukan dengan cepat dan mudah adalah sosialisai kepada seluruh masyarakat Indonesia yang mencapai ratusan juta jiwa," jelasnya.

Kapitalisasi BEI Menuju Rp 2.700 T

Aliran dana asing mendorong yang terus memborong saham-saham tak hanya mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus rekor baru, tapi juga meroketkan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI).

Akhir pekan lalu, kapitalisasi pasar BEI sudah mencapai Rp 2.523 triliun. Bahkan, sehari sebelumnya, kapitalisasi pasar mencetak rekor baru, yakni Rp 2.545 triliun.

Kapitalisasi sebesar itu mengantarkan Indonesia ke urutan ke-10 kapitalisasi pasar terbesar di Asia Pasifik. Saat ini, kapitalisasi pasar mencerminkan 18,65 persen produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Dengan kenaikan IHSG sebesar 21,11 persen sejak awal tahun dan kenaikan kapitalisasi pasar sebesar 33,22 persen, maka BEI juga menjadi bursa berkinerja terbaik di Asia Pasifik, setelah Sri Lanka.

Para analis yakin, kapitalisasi pasar BEI akan bisa mencapai target tahun ini, sebesar Rp 2.700 triliun. "Target tersebut akan tercapai dalam waktu dekat," ramal Krishna Dwi Setiawan, Kepala Riset Valbury Asia Securities.

Dorongan uang asing

Dana asing masih akan menjadi faktor pendorong indeks. "Ketidakpastian ekonomi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa membuat investor masih tertarik masuk ke pasar Indonesia," ujar Krishna.

Sampai dengan akhir pekan lalu, asing telah mencatat beli bersih Rp 12,47 triliun sepanjang tahun ini.

Analis Asia Kapitalindo Arga Paradita Sutiono pun yakin, kapitalisasi pasar masih akan merangsek naik. Syaratnya, selain karena kenaikan harga saham, kapitalisasi pasar tumbuh berkat penambahan jumlah saham beredar. "Dibantu IPO baru," ujar Arga.

Menurut hitungan Arga, untuk bisa mencapai kapitalisasi pasar Rp 2.700 triliun, IHSG harus menyentuh level 3.240. Bagi Arga, ini bukan angka yang mustahil diraih. Sebab, rasio harga terhadap laba bersih atau price to earning ratio (PER) emiten BEI saat ini sekitar 20 kali. "Saya rasa PER IHSG bisa mencapai 22 kali," imbuhnya.

Meski demikian, Arga menyarankan agar investor tetap waspada. Pertama, lantaran kenaikan inflasi yang tinggi bisa menekan kinerja emiten dan harga sahamnya.

Kedua, berita buruk masih berpotensi muncul dari benua Amerika dan Eropa. Jika karena itu asing terus masuk ke Indonesia, indeks dan kapitalisasi pasar akan terus melaju. "Tidak perlu terlalu khawatir," kata Arga.

Namun Krishna memberi peringatan, di akhir tahun, pasar saham bisa melemah akibat aksi ambil untung. Jika terjadi, tentu kapitalisasi pasar akan ikut turun. (Avanty Nurdiana/Kotan)

Kapitalisasi BEI Menuju Rp 2.700 T

Aliran dana asing mendorong yang terus memborong saham-saham tak hanya mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus rekor baru, tapi juga meroketkan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI).

Akhir pekan lalu, kapitalisasi pasar BEI sudah mencapai Rp 2.523 triliun. Bahkan, sehari sebelumnya, kapitalisasi pasar mencetak rekor baru, yakni Rp 2.545 triliun.

Kapitalisasi sebesar itu mengantarkan Indonesia ke urutan ke-10 kapitalisasi pasar terbesar di Asia Pasifik. Saat ini, kapitalisasi pasar mencerminkan 18,65 persen produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Dengan kenaikan IHSG sebesar 21,11 persen sejak awal tahun dan kenaikan kapitalisasi pasar sebesar 33,22 persen, maka BEI juga menjadi bursa berkinerja terbaik di Asia Pasifik, setelah Sri Lanka.

Para analis yakin, kapitalisasi pasar BEI akan bisa mencapai target tahun ini, sebesar Rp 2.700 triliun. "Target tersebut akan tercapai dalam waktu dekat," ramal Krishna Dwi Setiawan, Kepala Riset Valbury Asia Securities.

Dorongan uang asing

Dana asing masih akan menjadi faktor pendorong indeks. "Ketidakpastian ekonomi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa membuat investor masih tertarik masuk ke pasar Indonesia," ujar Krishna.

Sampai dengan akhir pekan lalu, asing telah mencatat beli bersih Rp 12,47 triliun sepanjang tahun ini.

Analis Asia Kapitalindo Arga Paradita Sutiono pun yakin, kapitalisasi pasar masih akan merangsek naik. Syaratnya, selain karena kenaikan harga saham, kapitalisasi pasar tumbuh berkat penambahan jumlah saham beredar. "Dibantu IPO baru," ujar Arga.

Menurut hitungan Arga, untuk bisa mencapai kapitalisasi pasar Rp 2.700 triliun, IHSG harus menyentuh level 3.240. Bagi Arga, ini bukan angka yang mustahil diraih. Sebab, rasio harga terhadap laba bersih atau price to earning ratio (PER) emiten BEI saat ini sekitar 20 kali. "Saya rasa PER IHSG bisa mencapai 22 kali," imbuhnya.

Meski demikian, Arga menyarankan agar investor tetap waspada. Pertama, lantaran kenaikan inflasi yang tinggi bisa menekan kinerja emiten dan harga sahamnya.

Kedua, berita buruk masih berpotensi muncul dari benua Amerika dan Eropa. Jika karena itu asing terus masuk ke Indonesia, indeks dan kapitalisasi pasar akan terus melaju. "Tidak perlu terlalu khawatir," kata Arga.

Namun Krishna memberi peringatan, di akhir tahun, pasar saham bisa melemah akibat aksi ambil untung. Jika terjadi, tentu kapitalisasi pasar akan ikut turun. (Avanty Nurdiana/Kotan)

BI Sudah Studi Banding soal Redenominasi

Akhir pekan lalu, Pjs Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution, yang baru saja terpilih menjadi Gubernur BI terpilih melempar isu panas tentang rencana bank sentral melakukan langkah redenominasi rupiah.

Sejatinya, isu redenominasi rupiah sudah pernah dilontarkan oleh bank sentral sejak awal Mei 2010. Ketika itu, BI menjelaskan, posisi otoritas moneter terkait rencana redenominasi baru sebatas mempelajari kemungkinan penerapannya di Indonesia. Untuk mengukur keseriusan rencana tersebut, hal itu bisa dibaca dari langkah-langkah yang sudah dilakukan oleh BI sejauh ini. Tercatat, mereka telah melakukan studi banding ke negara-negara yang telah melakukan langkah redenominasi, seperti Turki dan Romania.

Dari hasil studi banding ke negara-negara tersebut, BI mencatat beberapa hal yang perlu disiapkan sebelum langkah redenominasi diterapkan. Syarat pertama adalah kesiapan masyarakat. "Pengalaman Turki, ongkos terbesar adalah untuk sosialisasi pada masyarakat tentang langkah pemotongan nilai uang itu," cerita Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah, ketika itu.

Turki membutuhkan waktu sekitar 10 tahun sebelum benar-benar merealisasikan kebijakan redenominasi. Itu pun relatif berhasil dilakukan karena Negeri Kemal Attaturk tersebut berhasil menerapkan disiplin fiskal yang cukup ketat. Turki melakukan langkah redenominasi dengan memotong enam digit nilai mata uangnya sehingga 1.000.000 menjadi sama dengan 1.
Adapun Romania memotong empat digit.

Jika hal tersebut dilaksanakan di Indonesia yang memiliki wilayah geografis amat luas dan jumlah penduduk terpadat keempat di dunia, maka biaya sosialisasi dipastikan akan sangat besar. (Ruisa Khoiriyah/Kontan)

Minggu, 01 Agustus 2010

Dollar Stays Weak despite Warning about Strong Yen

TOKYO, KOMPAS.com - The dollar moved only narrowly against the yen in Asia on Monday, despite a warning by Japan’s finance minister about the yen’s renewed strength, analysts said. The dollar briefly topped 87 yen after Finance Minister Yoshihiko Noda said excessive volatility in currency rates could hurt economic activity, signaling his discomfort with the yen’s renewed strength.

But the dollar soon fell back, changing hands at 86.45 yen in Tokyo afternoon trade, compared with 86.47 yen in New York late Friday. The greenback fell to around 86.00 yen over the weekend, sparking fears for the earnings of Japanese exporters.

Noda told reporters Monday: “Excessive fluctuations or disorderly movements are not desirable for the stability of economies and financial markets, and from this perspective, I will properly monitor daily market movements”.

Rises in the yen could take steam out of Japan’s export-driven recovery, by making the nation’s products less competitive on global markets, and by reducing the yen value of international trade gains.

“The remark by the Japanese authorities briefly lifted the dollar above 87 yen... but lacked an impact to sustain the gain (in the dollar),” said Mizuho Corporate Bank market economist Daisuke Karakama.

The euro was trading at 1.3075 dollars, slightly up from 1.3054 dollars in New York, amid fears that the US economic recovery may be losing steam. The European unit also rose to 113.00 yen from 112.90.

“The market is now waiting for (US) jobs data due Friday” to get clues on how the world’s biggest economy is faring, Karakama said.

The US dollar was broadly lower against other Asian currencies. It fell to 1.3539 Singapore dollars from 1.3616 Friday, to 45.33 Philippine pesos from 45.58, to 31.80 Taiwan dollars from 32.00, to 1,172.30 South Korean won from 1,183.50 and to 32.19 Thai baht from 32.26. However it edged up to 8,945.00 Indonesian rupiah from 8,944.00.